'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
[INSPIRASI] Lihat Kebun dan Kolamku Penuh dengan Gizi
07 September 2020 14:52 WIB | dibaca 415
 
 
Ahad  pagi ini, agenda saya sudah berbaris rapi hanya tinggal menunggu waktu. Ada dua undangan webinar selain agenda pribadi yang harus selesai hari ini. Saya memprioritaskan untuk mengolah masakan sebagai penghias meja makan. Niat hati ingin ke pasar dulu. Saya sudah bersiap-siap akan ke pasar untuk membeli sayuran dan bumbu-bumbu. Kaki mulai melangkah ke luar pintu dan mata memandang sekeliling pekarangan rumah. Mata melihat kebun mini dan kolam di samping rumah. 
 
Terinspirasi lagu Kebunku. Lihat kebunku penuh dengan sayuran, ada terong ungu, sawi, kangkung, bayam dan pohon pepaya. Setiap hari kusiram semua. Pohon cabe rawit juga nampak ribun dengan daun dan cabenya. Daun salam dan lengkuaspun berdiri tegak dan daunya yang lebat. Sementara beberapa  pohon tomat masih ikhtiar untuk menghadiahkan karyanya beberapa bulan ke depan. Melihat pemandangan ini hati saya mulai tergoda, niat saya ke pasar mulai ragu.
 
Keraguan hati ditambah  otak kanan dan otak kiri yang mulai berdialog, menghitung dan menimbang. Setelah melihat sayuran  mengiming-iming kelezatan dan nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Mengapa harus ke pasar? Apa yang akan saya beli sudah ada di depan mata. Keberadaan beberapa kolam ikan (lele, nila dan gurami) juga menambah suasana hati menjadi adem dan menambah hiburan. Saya tinggal memilih sesuai selera dan suasana hati. 
 
Yah saya ingat suatu peristiwa, beberapa hari yang lalu suami ingin oseng terong ungu. Saya belum meladeninya dengan alasan ingin memandang terong ungu itu tetap di pohonnya. Saat itu nampak ada pancaran kecewa dari mata suami. Ternyata beberapa hari kemudian  terong itu semakin bertambah banyak. Akhirnya hari ini saya putuskan untuk memetik dua buah terong ungu dari polybag di teras rumah. Masih ada beberapa buah terong ungu yang lain yang dapat saya pandang setiap hari.
 
Ada sesuatu yang mengalir dalam hati saya ketika memegang gunting dan memotong tangkai terong. Seperti inikah rasanya? Alhamdulillah tidak jadi ke pasar, artinya pengeluaran tertunda, dana tersimpan lagi. Pagi ini, terong ungu saya padu padankan dengan cabe rawit yang saya panen, daun salam yang saya petik dan lengkuas yang saya gali dari kebun. Ini semua akan menambah sensasi rasa. Rasa pedas, gurih dan harumnya daun salam dan lengkuas menambah fresh masakan ini. Satu tangkai pete dan beberapa tangkai kacang panjang menambah warna-warninya sajian pagi ini. 
 
Lele yang lenggak-lenggok terkadang menggantung kepalanya di permukaan air dalam kolam ini juga menjadi pilihan menu hari ini. Lumayan, sekalian berbagi lagi pada tetangga. Oh, ternyata tetangga saya tidak mau diberi percuma, inginnya membeli saja beberapa kilogram. 
 
Suami nampak bingung untuk menentukan harga jual karena memang belum berniat untuk menjual. Niatnya hanya untuk  keperluan menjaga pangan dan gizi keluarga serta berbagi kepada tetangga. Rupanya tetangga juga merasa kurang enak hati jika diberi percuma lagi. Akhirnya suami bertanya kepada tetangga, "Berapa harga ikan lele per kilogram?" Tetangga sayapun memberitahu bahwa harga lele Rp28.000 satu kg. Yah, suami saya memberikan harga persahabatan, eh harga tetangga.  Lima belas ribu rupiah per kilogram dan tetangga setuju membeli 3 kg. Beritapun sampai ke tetangga yang lain. Beberapa tetangga lain juga datang untuk membeli ikan lele. Suami menyeleksi tetangga yang datang. Tetangga yang sudah pernah diberi lele beberapa waktu yang lalu, hari ini suami menjualnya dengan harga Rp. 15.000/kg. Tetangga yang belum pernah diberi, maka hari ini suami memberinya percuma alias gratis. Di samping rumah saya menjadi "pasar ikan lele dadakan". Nampak di wajah suami terpancar sinar bahagia. Bahagia karena telah berhasil panen ikan lele dan bahagia karena dapat berbagi sambil mengedukasi kepada warga terdekat, bagaimana memanfaatkan pekarangan rumah. Bagaimana menanam sayuran dan memelihara ikan lele yang relatif mudah dengan biaya murah namun gizi keluarga tetap terjaga. Terutama pada masa pandemi Covid-19. 
 
 
 
 
 
Samarinda, 6 September 2020.
 
Penulis : Susiyati ( Anggota 'Aisyiyah Kalimantan Timur)
Shared Post:
Berita Terbaru
Berita Terkomentari