'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Cerita dari Marunda Kepu Tentang Program Kelentingan Keluarga
05 Oktober 2020 16:55 WIB | dibaca 398
 
 
JAKARTA UTARA - Laki-laki itu biasa dipanggil Pak Rarat. Nama sebenarnya memang Rarat. Rumah yang sekarang ditinggali beliau bersama keluarganya adalah sebuah saung yang sangat sederhana. Terbuat dari bambu di atas empang. Hanya ada satu kamar tidur dan ruang terbuka yang disediakan untuk tamu sekaligus tempat makan para pengunjung warung makannya. Istrinya yang bernama Sawi, sehari harinya buka warung dan warung makan dengan menu ikan goreng, ikan bakar, udang goreng lengkap dengan sambal terasi dan lalapannya, tumis kangkung dan beberapa macam minuman. Hasilnya lumayan untuk menambah pendapatan rumah tangga.
 
Menurut Pak Rarat, pada masa jayanya memancing (melaut, cari ikan), hasil pancingannya bisa untuk beberapa hari, cukup untuk keperluan keluarga selama seminggu. Jadi satu kali mancing bisa libur satu minggu di rumah.
 
Pasangan Pak Rarat dan Bu Sawi dikaruniai 5 orang anak. Putrinya yang sulung lumpuh sejak lahir. Saat ini 2 anak laki-laki nya sudah bekerja di Pemda DKI Jakarta sebagai operator alat berat. Anak ke-4 masih duduk di SMP dan yang bungsu perempuan masih duduk dibangku SD.
 
"Tekad saya  anak-anak harus sekolah, supaya lebih baik dan lebih pinter dari saya. Saya hanya sekolah kelas 1 SD, karena dari kecil umur 7 tahun saya sudah ikut melaut, membantu bapak saya sebagai nelayan," kata Pak Rarat.
 
Pak Rarat tinggal di daerah Marunda Kepu, di pinggir Muara Kanal Timur. Dari sejak lahir tinggal di Marunda. Menurut Pak Rarat, sekarang daerah ini sudah dikuasai para taipan, orang-orang Betawi terpinggirkan. Daerah ini dari tahun 2016 jadi kawasan Marunda Center, untuk pergudangan. Oleh sebab itu, sekarang ini sudah ditembok semua. Kita para nelayan, sangat terganggu, karena susah melaut. Ikan juga mulai susah didapat. Kalau melaut, hasilnya sedikit, kira-kira 5-10 kg, jualnya masih lewat tengkulak di penampungan ikan (petele).
 
Dengan adanya Marunda Center, jika ingin menambatkan kapal sekarang sulit, karena dilarang oleh para satpam. Belum lagi adanya limbah dari pabrik. Ditambah dengan adanya pandemi Covid-19, warung makan sepi pembeli. Paling hanya orang minum kopi. Padahal kebutuhan makin bertambah, anak 2 sekolah di rumah butuh biaya pulsa. 
 
Nelayan banyak yang istirahat. Ada yang menjadi pemulung, ojek, sebisanya saja. Katanya  "Saya merenung, apa yang bisa saya lakukan. Kebetulan ibu-ibu dari 'Aisyiyah menghubungi dan menawarkan adanya program budi daya lele dalam ember dan nenanam sayuran di atasnya. Alhamdullilah, semoga ini bisa menjadi jalan keluar dari kesulitan saya dan teman-teman". (Soenanti/PDA Jakarta Utara)
Shared Post:
Berita Terbaru
Berita Terkomentari