'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Meningkatkan Taawun Sosial
23 April 2020 19:36 WIB | dibaca 165

JATENG - Musibah pandemi covid-19 yang menimpa negara kita dan seluruh dunia telah mengakibatkan  jatuhnya banyak korban jiwa. Di samping itu, pandemi tersebut juga memiliki dampak sosial yang luar biasa yang berupa kesulitan hidup, terutama masyarakat yang berpenghasilan harian, sektor informal maupun korban PHK.

Kebijakan sosial distancingdan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang ditetapkan oleh pemerintah menyebabkan banyak warga harus bertahan hidup dengan tanpa penghasilan karena tidak boleh keluar rumah.

Hal ini tentu saja merupakan hal yang Selaku orang beriman, kita yang mampu dan tidak terganggu penghasilannya oleh kebijakan tersebut harus peduli terhadap saudara-saudara yang terdampak, bahkan juga terhadap RS, klinik, para tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menangani covid. Mereka mengalami kekurangan APD dan memerlukan bantuan asupan makanan minuman yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan stamina. Mereka amat rentan terpapar virus dan tidak bisa pulang ke rumah karena tugasnya, di samping beresiko membawa virus ke rumah.

Nabi SAW mengajarkan kepada kita untuk peduli sosialterhadap warga yang ada di sekitar kita, yang saat ini banyak yang terdampak akibat sosial distancing. Nabi mengatakan:”Tidak akan masuk surga seseorang apabila dia tidur dengan nyenyak, padahal tetangganya kelaparan.”Bagi mereka yang tinggal di daerah yang mapan ekonominya mungkin tidak akan menemukan orang yang kesulitan.

Untuk mereka ini tentunya bisa menyalurkan bantuan lewat lembaga-lembaga terpercaya yang selanjutnya menyalurkannya kepada masyarakat yang terdampak di lingkungan lain. Meskipun pemerintah sudah memberikan bantuan, kewajiban kita sebagai orang beriman tetap harus ditunaikan. 

Dampak buruk dari sosial distancing terutama dirasakan oleh para ibu karena secara kodrati sangat peka terhadap kesulitan yang menimpa keluarganya. Mereka mudah merasa “trenyuh dan prihatin terhadap nasib saudaranya.

Bagaimana tidak, karena ibu-ibulah yang tiap hari menyiapkan kebutuhan makan-minum seluruh anggota keluarganya. Tanpa penghasilan, bagaimana dia akan beli beras,gas,  minyak, sayuran lauk untuk keluarganya. Apalagi bagi yang masih mempumyai balita, yang sangat membutuhkan gizi, seperti susu dan asupan yang seimbang untuk tumbuh kembang anak-anak. Kegagalan untuk memenuhi kebutuhan asupan untuk pertumbuhan akan berdampak pada depan anakkarena akan mengalami stunting, tumbuh kembang tidak optimal.

Untuk itulah, para ibu, para perempuan hendaknya menjadi pelopor gerakan ta’awun sosial untuk  menolong dan membantu saudara kita yang membutuhkan. Kita harus siap dan cepat bertindak menyisihkan sebagian rezeki yang kita peroleh. Bantuan kita tidak hanya bermanfaat untuk penerima, tapi juga diri kita dan masyarakat luas. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi: Ash-shadaqatu tadfa’ul bala’, sedekah itu akan menolak bala’ atau musibah, dalam hal ini wabah Covid-19.

Ta’awun tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk materiyang berupa sembako, lauk pauk dan kebutuhan pokok lainya, seperti sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi, pembalut, yang urgen untuk kelangungan hidup saudara saudara kita yang kesulitanselama masa diam di rumah ini.

Marilah kita berjuang di jalan Allah dengan cara membantu meringankan beban hidup saudara yang lain. Inilah jalan terbaik berjuang di jalan Allah, sebagaimana firmannya: Wa tujaahiduuna fii sabiililahi biamwalikum wa anfusikum  dzalikum khairun lakum in kuntum ta’lamuun.

Para Ibu, perempuan Indonesia, marilah kita berempati dan menjadi pelopor gerakan untuk mengurangi beban derita yang ditanggung saudaranya yang terdampak covid. Berbuat sendirian tidaklah cukup, kita harus mengajak masyarakat luas yang beruntung untuk mengulurkan tangan membantu meringankan musibah ini.

Saat kritis inilah iman kita diuji, apakah kita mau mengamalkan surat al-Maa ‘uun:  “Araitalladzii yakadzdzibu biddiin, fadzzalikalladzii yadu’ ‘ol yatiim, walaa yakhudzdzu ‘alaa tha’aamal miskin, fawailul lil mushalliin alladzzinahum ‘an shalatihim saahuun, walladzinahum yuraa’uun wa yam na’uun al maa’uun(QS al-Maa’uun 1-7).

Bukankan kita tidak mau termasuk sebagai orang yang mendustakan agama?  Orang yang tidak memperhatikan anak yatim, juga tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin  Bukankah kita  dianggap orang yang celaka meskipun kita sholat, karena kita lalai dalam sholat kita dan riya serta tidak mau menolong dengan sesuatu yang berguna bagi yang lain. 

Bersyukurlah, karena kita masih diberi kesempatan untuk meningkatkan ta’awun sosial kita di tengah wabah ini. Semoga kita tidak termasuk orang yang celaka, karena mengabaikan kesempatan itu. Wallahu a’lam bishshawab.

Shared Post:
Berita Terbaru
Berita Terkomentari