'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Pelajar Berkenalan Langsung Jatuh Hati dengan Budikdamber
13 September 2020 14:36 WIB | dibaca 361
 
SAMARINDA - Sudah hampir 9 bulan wabah pandemi Covid-19 menghantui dunia. Tidak ada satupun negara yang bersih atau terbebas dari wabah ini. Tak terkecuali  negeri tercinta ini, Indonesia. Wabah pandemi Covid-19 ini masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020 dan langsung menyebar ke seluruh pelosok negeri, mengakibatkan dampak di berbagai sektor kehidupan. Termasuk sektor pendidikan dan sektor ekonomi. Dunia pendidikan di Indonesia mengalami perubahan yang drastis. Tenaga pendidik dan pelajar atau mahasiswa sangat terkena dampak dari wabah ini. Dampak yang paling dirasakan adalah ketika tenaga pendidik harus mengajar dari rumah dan siswa atau mahasiswa harus belajar dan mengerjakan tugas dari rumah. Jika mengajar dan belajar dari rumah ini berlangsung hanya beberapa hari tentu sangat menyenangkan dan banyak disyukuri, tetapi ketika aktivitas ini dilakukan sampai hampir 7 bulan, hal ini mengakibatkan berbagai hal yang tidak menyenangkan. Terutama yang dirasakan oleh para pelajar. Selain merasa sedih karena tidak dapat bertemu dengan teman-teman dan gurunya, merasa sedih karena tidak mendapatkan uang jajan, juga merasa jenuh dan bosan.
 
Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Kalimantan Timur (LLHPB PWA Kaltim), melihat peluang ini untuk mengatasi rasa jenuh dan bosan para pelajar. Melalui komunikasi informal dengan kepala SMK Negeri 14 Samarinda, LLHPB PWA Kaltim memberikan edukasi tentang Program Ketahanan Pangan Keluarga dan Komunitas Lenting melalui Budidaya Ikan Lele dalam Ember (Budikdamber) dan menanam sayuran di pekarangan rumah mereka. Program ini diperkenalkan kepada pelajar melalui mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKK) untuk siswa SMK Negeri 14 Samarinda. 
 
Sebagai langkah awal, atas izin dan restu Kepala Sekolah, Bapak H. Poniran,. M.M., M.Pd., hari Rabu, (9/9), LLHPB PWA Kaltim memberikan edukasi kepada  37 siswa. Tujuan program ini adalah untuk memberi pendidikan kepada siswa pentingnya menjaga kesehatan, pentingnya peduli lingkungan dan memberi aktivitas untuk penguatan karakter (tanggung jawab, belajar mandiri, kerja sama, gotong royong dan belajar produktif). Materi yang diberikan adalah: pertama, pemahaman pentingnya mematuhi protokol kesehatan dengan selalu mencuci tangan dengan sabun, memakai masker di manapun berada, menjaga jarak dan menjauhi kerumuman massa; kedua, sosialisasi Program Ketahanan Pangan Keluarga dan Komunitas Lenting; ketiga pengenalan dan teknis Budikdamber dan menanam sayuran di pekarangan rumah. Pengenalan dan teknis Budikdamber ini disampaikan secara daring (dalam jaringan) dengan aplikasi Google Classroom, media sosial WhatsApp maupun pertemuan secara langsung (luring) dengan mematuhi protokol kesehatan. 
 
Pada hari yang sama LLHPB menyerahkan bibit ikan lele, makanan ikan lele dan berbagai bibit sayuran. Bibit sayuran yang diserahkan adalah bibit sayuran sawi, bayam, terong ungu, terong hijau, tomat, daun sop (daun seledri) dan bibit daun kemangi. Penyerahan dilakukan secara simbolis melalui perwakilan setiap kelompok demi menjaga protokol kesehatan. Penyerahan bibit ikan lele dan sayuran juga ada yang diantarkan langsung kepada orang tua siswa di rumahnya. Pada kesempatan yang sama LLHPB PWA Kaltim juga menyerahkan bibit Ikan lele dan makanannya kepada Pak Doel (Pak Lik) salah satu mengelola kantin sekolah yang sudah hampir 7 bulan tidak dapat berjualan di kantin karena semua siswa belajar dari rumah.
 
Pancaran kegembiraan dan antusias siswa terlihat pada saat menerima bibit ikan lele. Mereka seperti mendapat mainan baru. Setelah beberapa hari mereka memelihara ikan lele dan menanam sayuran, mereka mulai bercerita melalui tulisan dan diposting ke grup WhatsApp. Saya lega dan senang membaca cerita meraka. Menurut mereka awalnya bingung, karena belum pernah memelihara ikan lele dan belum pernah menanam sayuran padahal di rumah mereka sudah ada tanaman. Mereka mengaku senang dan bahagia memelihara ikan lele dan mereka mengakui. Di bawah ini kutipan cerita mereka.
 
Menurut CICI AS, “Perasaan saya ketika menanam dan memelihara tanaman disekitar rumah saya, sangat senang hati, saya menjadi memiliki rutinitas setiap harinya untuk menyiram dan mengecek tanaman bagaimana perkembangannya. Saya sangat suka memelihara tanaman karena dengan tanaman tersebut pekarangan rumah saya jadi terlihat indah. Kedua orang tua saya pun senang ketika saya diberi kegiatan  tersebut, mereka selalu mengingatkan saya untuk selalu menyiram tanaman, adik saya pun terkadang ikut menyiram tanaman."
 
Menurut Afifah, “Tugas merawat tanaman yang saya dapat pertama kali terlintas pikiran buruk seperti hal ini akan merepotkan saya atau pun lainnya, tapi ibu saya mengingatkan bahwa tugas seperti itu tidak ada ruginya, karena ibu saya selalu menasehati saya dari pada setelah belajar online saya bermain video game lebih baik saya melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Saya menanam bersama teman kelompok saya, bila dikerjakan bersama terasa tidak terlalu buruk seperti di pikiranku sebelumnya, 3 hari telah berlalu saya mengurus tanaman dengan seperti arahan ibu saya, namun saat saya menyirami tanaman saya memperhatikan 1 tanaman mulai menumbuhkan tunasnya, ada rasa kepuasan saat melihat itu, perasaan bahagia telah berhasil menanam dengan baik."
 
Menurut cerita Tiara, “Waalaikumsalam Bu Susi. Perkembangan ikan lele yang ibu berikan pada tanggal 9 September 2020 sampai pada hari ini, ikannya alhamdulillah sehat, tidak terjadi apa-apa yang aneh-aneh pada ikannya, Bu. Masih utuh ada 25 ekor. Untuk gerakan ikan nya masih standar bu. Tidak lincah  tidak lambat. Karena masih beradaptasi pada lingkungan baru. Hari ini tadi saya mengganti air yang baru, karena air yang sebelumnya sudah keruh, keruh karena beberapa makanan ikan yang tidak dimakan akhirnya hancur dan mengendap di air. Kalau perasaan saya sekarang senang, karena setiap bangun pagi selalu memberi makan ikan, sambil saya ajak ngomong dan saya lihati hehehe. Menurut saya beda karena dulu sewaktu saya membantu bapak merawat ikan, itu hanya memberi makan saja. Kalau yang sekarang berbeda karena tangan saya sendiri mulai dari memberi makan pagi dan sore setiap hari, menguras airnya sendiri. Jadi seperti itu untuk perkembangan ikan lele yang ada di rumah saya, Bu."
 
Melihat kegembiraan siswa ketika memelihara ikan lele dan mencoba menanam sayuran dengan tangannya sendiri, LLHPB PWA Kaltim merasa optimis bahwa tujuan memperkenalkan program keluarga ketahanan pangan dan komunitas lenting kepada pelajar ini akan berdampak positif kepada pelajar dan keluarganya. Pelajar akan terhibur setelah berbulan-bulan merasakan kejenuhan dengan rutinitas aktifitas di depan laptop atau handphone. Selain itu orang tuanya juga merasa terhibur ketika melihat putra-putrinya mengerjakan tugas PKK tanpa merasa terbebani justru merasa senang dan gembira, mengerjakan tugas yang berdampak positif kepada semua pihak. Selanjutnya LLHPB PWA Kaltim akan memperluas program ini kepada pelajar di beberapa sekolah yang lebih luas lagi, juga kepada masyarakat pada umumya. (Susiyati/LLHPB PWA Kaltim)
Shared Post:
Berita Terbaru
Berita Terkomentari