'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
PWA DKI Jakarta Lakukan Monitoring dan Evaluasi Program Kelentingan Keluarga di Tiga Lokasi
01 Oktober 2020 15:07 WIB | dibaca 388

JAKARTA UTARA - Program Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat 'Aisyiyah kerja sama dengan The Asia Foundation (TAF) yang dimulai mulai bulan Juli 2020 dan akan berakhir tanggal 30 September 2020.

PDA Jakarta Utara telah merencanakan akan melakukan monitoring dan evaluasi di 3 (tiga) lokasi pelaksanaan program yaitu Kampung Sawah, Kalibaru dan Marunda pada tanggal 19 September 2020. Namun, kunjungan kemudian dipindah menjadi tanggal 12 September 2020 dalam rangka mengantisipasi keadaan setelah adanya Konferensi Pers Gubernur DKI Jakarta, pada tanggal 9 September 2020, jam 19.35. Konferensi pers tersebut mengumumkan bahwa situasi wabah di Jakarta saat ini berada dalam kondisi darurat; Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan menarik rem darurat dan kembali ke PSBB ketat; warga akan kembali berkegiatan dari rumah, beribadah dari rumah, bekerja dari rumah, belajar dari rumah; mulai hari Senin, tanggal 14 September seluruh kegiatan perkantoran akan dilakukan dari rumah dan ada 11 (sebelas) bidang esensial yang diperbolehkan beoperasi.
 
Yang bertugas Soenanti, Ketua PDA Jakarta Utara, Anisah Nurwiyati, Ketua MKS Jakarta Utara, Ricky dari DPP IMM Bidang Kesehatan, dan TVMU.
 
Pertemuan pada masing-masing daerah hanya diwakili Ketua Kelompok dan Penanggungjawab. Dengan pertimbangan untuk menghindari kerumunan orang banyak, supaya tetap  bisa menjalankan protokol kesehatan.
 
Rangkaian agenda monitoring dan evaluasi :
 
I. KAMPUNG SAWAH
 
Pertemuan dihadiri 5 (lima) orang Ketua Kelompok, Penanggungjawab, Ketua Cabang Aisyiyah dan 1 (satu) Guru TK. Dari 25 (dua puluh lima) peserta yang ikut pada umumnya semua masih memelihara lelenya, meskipun beberapa mengalami lelenya mati 2 (dua) sampai 5 (lima)  ekor. Ada yang mati karena berkelahi sesama lele di dalam ember Kelihatan lele yang mati itu badannya terdapat luka-luka, lele yang masih hidup, yang sudah dipelihara 36 (tiga puluh enam) hari sudah kelihatan pertumbuhannya. Namun berat timbangan dan umurnya belum waktunya untuk dipanen.
 
Ada yang memberi makanan tambahan untuk lelenya dengan daun pepaya selain pelet, katanya supaya cepat besar. Beberapa ibu yang kita kunjungi memberi makan lelenya dengan "mata lele"  yaitu semacam lumut yang tumbuh di empang yang kelihatan hijau-hijau diatas air, katanya supaya lele cepat besar.
 
Para peserta pada umumnya sudah pernah panen kangkungnya, bahkan ada yang sudah 2 (dua) kali, dimasak untuk  keluarga. Ada 2 (dua) Ibu yang mengatakan tanaman kangkungnya kering lalu mati. Katanya karena terik matahari. Tanaman pokcay tidak bisa tumbuh bagus. Sekarang sudah mulai tanam cabe dan bayam.
 
Semua peserta senang dengan kegiatan budidaya lele dan tanam sayuran. Menurut peserta yang kami kunjungi selain ada kegiatan juga jadi tidak bosan di rumah terus di masa pandemi. Harapannya bisa terus budidaya lele dan tanam sayurannya. Bisa dimanfaatkan untuk keluarga. Mereka semua masih semangat.
 
Dampaknya peserta dari 25 keluarga yang rata-rata terdiri atas 4 (empat) orang, maka yang mendapat manfaat  bisa 100 (seratus) orang bahkan lebih.
Banyak warga, juga pemudanya karena banyak yang menggagur. Mereka berminat ikut program tersebut.
 
 
II. KALIBARU
 
Di Kampung Kerang Hijau, Kalibaru, pertemuan dihadiri oleh Ketua Kelompok,  Penanggungjawab,  dan 2 (dua) orang peserta. 
 
Untuk pemeliharaan lele, sebagian sebagian besar mengalami lelenya banyak yang mati. Karena berkelahi didalam ember. Juga cuaca  panas sekali. Atau ada penyebab lainnya. Para peserta juga binguńg.  Ada yang hanya tersisa 10 (sepuluh) ekor, semula 50 (lima puluh) ekor. Katanya karena udara yang panas sekali, maklum dekat pantai. Jadi kepanasan di ember.
 
Tetapi para peserta masih tetap semangat dalam menjalankan program kita. Tiga orang yang memindahkan lelenya  sementara di kolam, katanya supaya geraknya lelenya  lebih bebas, lebih gesit dan pertumbuhanya  lebih cepat dari pada di ember. Setelah kita lihat,  memang lele sudah tambah besar, tapi waktu panen masih kurang lebih 2 (dua) minggu lagi.
 
Tanaman kangkung semuannya dimakan tikus. Tanam lagi, dimakan lagi. Sekarang sudah mulai tanam cabe dan bayam. Disemai kalau sudah tumbuh dipindah di pot2 bunga, kebanyakan digantung karena sebagian besar penduduknya tidak punya lahan, rumah petak yang berderet sepanjang gang. Pot tanamannya kebanyakan digantung.
 
Memang kalau dilihat keadaan kebersihan kampung, kurang bersih, selain itu bau ikan asin yang sangat mengganggu. Karena kehidupan penduduknya sebagian besar adalah sebagai buruh menggunting ikan "beseng" ikan kering jang digunting kecil-kecil seperti ikan teri kecil-kecil . Dengan upah Rp. 7000 per kilo. Ini untuk menambah kebutuhan rumah tangga mereka. 
 
Dampaknya, mereka masih semangat, untuk meneruskan program kelentingan keluarga tersebut, meskipun sedikit memang masih bisa merasakan hasilnya bersama keluarga dan akan berusaha untuk meneruskan usahanya.
Karena Peserta sebagian besar adalah orang tua murid Paud Mutiara Bambu  (binaan Aisyiyah), mereka makin kompak, ikut membina sekolahannya.
 
III. MARUNDA
 
Pertemuan dihadiri 5 (lima) orang Ketua Kelompok  Penanggung jawab, 1 (satu) orang peserta, dan Bu Rarat  sebagai tuan rumah. Jumlah peserta yang Marunda Kepu  (daerah pinggir pantai) 15 (lima belas) orang.
 
Pada umumnya, kegiatan di Marunda cukup berhasil. Meskipun ada juga lele yang mati, maksimal 5 (lima) ekor. Mereka senang sekali, seperti di tempat Pak Rarat, lelenya besar dan segar, sudah dipanen.
 
Alhamdullilah, kerja kelompok mereka berhasil. Semuanya ikut merasakan bahagia. Pak Rarat, bersyukur sekali, hari itu juga kami panen lele. Dan sebagian digoreng untuk dinikmati bersama yang hadir, dan makan siang bersama. 
 
Pak Rarat dan teman-teman dalam memelihara lele tidak diberi makan pelet (pakan ikan) tapi diganti dengan ikan cere yang diambil di selokan-selokan. Sehingga lelenya cepat besar. Kadang-kadang lele tersebut dipindahkan ke bak supaya tidak berdesak-desakan.
 
Tanaman kangkung, gemuk segar, dan sudah panen dua kali, dimasak untuk keluarga. Sekarang ini tanam bayam dan hasilnya bayam tumbuh segar, hijau. Saat itu juga kita panen bayam. 
 
Ya Allah, Alhandullilah. Hasil jerih payah mereka sudah bisa dirasakan bersama keluarganya, yang pasti sayuran sehat tanpa peptisida.  Mudah-mudahan kelanjutannya bisa menambah kelentingan, ketahanan  keluarga,  menambah penghasilan, menjadikan sejahtera  keluarganya  di era pandemi Covid 19.
Mereka semangat sekali untuk melanjutkan usahanya.
 
Untuk daerah Marunda di rumah susun dan sekitarnya, ada 10 (sepuluh) orang peserta. Berdasarkan laporan Ketua Kelompok dari 3 (tiga) peserta yang rumahnya di rumah susun Marunda, dilaporkan lelenya mati semua. Mereka tidak tahu bisa terjadi seperti itu. 
 
Mereka menaruh ember di lantai bawah, sedangkan rumahnya ada dilantai atas. Karena ruangannya sempit dan tidak ada lahan untuk menaruh ember, maka mereka taruh di bawah. 
 
Beberapa Peserta masih bisa memelihara lelenya, meskipun banyak yang mati, berkisar 10 (sepuluh)  sampai 15 (lima belas) ekor. Ada yang ingin memindahkan lelenya dikolam, supaya kelihatan perkembangannya dengan jelas. Yang masih punya lele tetap merawatnya. Mereka masih semangat, yang sudah tidak punya lelepun masih semangat dengan tanam sayuran bersama- sama temannya. 
 
Kangkung banyak kering, katanya mungkin karena cuaca  panas sekali. Ada 4 (empat) Ibu yang berhasil menanam sayurannya, yang rumahnys diluar rumah susun( rusun Marunda). Dan sudah pernah panen kangkung dan sekarang tanam bayam. 
 
Dampaknya dari 25 Peserta yang gagal total 3 (tiga) orang, kalau satu keluarga 4 (empat) orang maka 21 (dua puluh satu) x 4 (empat)  jiwa, ada 84 (delapan puluh empat)  jiwa.
 
Dari semangat itu menumbuhkan kepercayaan diri, tahan, dalam mengadapi pandemi Covid 19 ini dengan semangat.
 
 
Dalam pelaksanaan program "Kelentingan Keluarga Dalam Menghadapi Masa Pademi Covid 19" di masing daerah lokasi Kampung, Sawah, Kalibaru dan Marunda, peserta menyikapinya berbeda beda, berdasarkan pengalaman, upaya, semangat, para peserta, dengan hasilnya yang berbeda pula. Semua menjadi pengalaman yang sangat berharga. Bagi yang sudah berhasil, bersyukur, semoga usaha ini berkesinambungan  lebih sukses lagi, ada inovasi dalam mengolah lelenya, bisa menjadi makanan olahan, seperti lele krispi, kripik lele dan sebagainya. Bisa masuk ke usaha UMKM. 
 
Bagi yang kurang berhasil, belajar dari pengalaman bisa lebih maju lagi, sukses dan tetap semangat. Kami ucapkan terima kasih kepada LLPHB PPA dan TAF, yang memberikan kepercayaan ikut melaksanakan program "Kelentingan Keluarga" ini. (Soenanti/PDA Jakarta Utara)
Shared Post:
Berita Terbaru
Berita Terkomentari